Puasa Aman bagi Penderita Diabetes
Penderita diabetes harus peka terhadap sinyal tubuh. Jika muncul tanda-tanda bahaya seperti lemas dan kondisi hampir pingsan, puasa wajib segera dibatalkan demi menghindari komplikasi fatal.
LAMONGAN – Puasa Ramadan menjadi hal yang krusial bagi umat muslim, terutama bagi penderita Diabetes Melitus. Banyak yang bertanya-tanya, apakah aman bagi penderita gula darah untuk menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh?
Wadir Pelayanan dan Penunjang RSUD dr Soegiri Lamongan, dr Budi Himawan, Sp.U, menegaskan bahwa pada dasarnya penderita diabetes tetap diperbolehkan berpuasa. Namun, ada syarat mutlak yang harus dipenuhi: kondisi gula darah harus terkontrol dan wajib berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai.
"Yang boleh berpuasa adalah pasien diabetes tipe 2 yang kondisinya stabil, tidak sering mengalami penurunan gula darah drastis (hipoglikemia), dan tidak memiliki komplikasi berat," ujar dr Budi, Senin (23/2/2026).
Siapa yang Sebaiknya Tidak Berpuasa ?
Meski semangat ibadah tinggi, dr Budi mengingatkan agar pasien tidak memaksakan diri jika kondisi medis tidak memungkinkan. Berikut adalah kategori pasien yang disarankan untuk menunda atau tidak berpuasa demi keselamatan jiwa:
1. Penderita Diabetes Tipe 1.
2. Pasien dengan gula darah yang tidak terkontrol.
3. Pasien yang sering mengalami serangan hipoglikemia.
4. Pasien dengan komplikasi berat pada organ ginjal atau jantung.
"Dalam ajaran agama pun, kesehatan adalah prioritas. Ada keringanan bagi mereka yang sakit. Menjaga kesehatan adalah amanah," katanya.
Mengenal 4 Tipe Diabetes
Masyarakat perlu memahami bahwa diabetes memiliki klasifikasi yang berbeda-beda. dr Budi merinci empat tipe diabetes yang patut diwaspadai:
• Tipe 1: Kurangnya produksi insulin sejak usia muda, umumnya karena faktor genetik.
• Tipe 2: Tipe paling umum di masyarakat, dipicu kombinasi kurangnya insulin dan resistensi reseptor tubuh.
• Tipe 3 (Gestasional): Terjadi pada ibu hamil karena faktor hormonal. Bisa kembali normal atau berlanjut menjadi tipe 2 setelah melahirkan.
• Tipe 4: Diabetes yang dipicu oleh faktor kurang gizi atau malnutrisi.
Rahasia Gula Darah Stabil: Terapkan Pola 3J
Agar tetap bugar selama berpuasa, RSUD dr Soegiri menyarankan penerapan konsep 3J (Jenis, Jumlah, dan Jadwal) yang dimodifikasi untuk bulan Ramadan:
1. Jenis Makanan: Pilih karbohidrat kompleks dan makanan tinggi serat. Hindari konsumsi makanan manis yang berlebihan saat berbuka.
2. Jumlah Makanan: Tetap terkontrol. Jangan jadikan momen berbuka sebagai ajang "balas dendam" dengan makan porsi besar sekaligus.
3. Jadwal Makan: Sahur sebaiknya dilakukan mendekati waktu imsak. Saat berbuka, mulailah dengan takjil secukupnya sebelum beralih ke makanan utama.
Penyesuaian Obat dan Insulin
Terkait penggunaan obat-obatan atau terapi insulin, dr Budi melarang keras pasien mengubah dosis secara mandiri.
"Umumnya, obat yang biasa diminum pagi hari dipindahkan ke waktu berbuka. Dosis akan disesuaikan oleh dokter agar tidak terjadi drop gula darah di siang hari," tuturnya.
Waspada! Segera Batalkan Puasa Jika Muncul Gejala Ini
Penderita diabetes harus peka terhadap sinyal tubuh. Jika muncul tanda-tanda bahaya berikut, puasa wajib segera dibatalkan demi menghindari komplikasi fatal:
• Lemas berlebihan dan gemetar.
• Keluar keringat dingin.
• Pandangan kabur atau pusing berat.
• Kondisi hampir pingsan.
Gejala tersebut merupakan indikator kuat bahwa kadar gula darah terlalu rendah (hipoglikemia). Segera cari pertolongan medis jika kondisi tidak membaik setelah membatalkan puasa.
"Dengan persiapan yang matang dan pemantauan medis yang tepat, penderita diabetes tetap bisa meraih keberkahan Ramadan tanpa harus mempertaruhkan kesehatan," ujar dr Budi, Wadir Pelayanan dan Penunjang RSUD dr Soegiri Lamongan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



