Waspadai Pembesaran Prostat pada Pria di Atas 50 Tahun
BPH atau pembesaran prostat banyak dialami pria usia di atas 50 tahun. Kenali gejala, penyebab, dan penanganannya menurut RSUD dr Soegiri Lamongan.
Lamongan – Menginjak usia di atas 50 tahun, banyak pria mulai merasakan perubahan pada pola buang air kecil. Salah satu penyebab yang paling umum ditemukan di RSUD dr Soegiri Lamongan adalah Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau yang dikenal masyarakat sebagai pembesaran prostat jinak.
Kasus BPH menjadi salah satu yang paling sering ditangani, berada di bawah kasus batu ureter. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kualitas hidup jika tidak ditangani sejak dini.
Wakil Direktur Penunjang dan Pelayanan RSUD dr Soegiri Lamongan, dr. Budi Himawan, Sp.U, MM, FICS, menjelaskan bahwa BPH merupakan bagian dari proses penuaan pada pria. Meski demikian, gejalanya dapat dikenali lebih awal agar penanganan bisa segera dilakukan.
Tiga Kelompok Gejala BPH
Menurut dr. Budi, gejala BPH umumnya terbagi dalam tiga kelompok utama. Pada fase awal, gangguan terjadi saat pengisian urin atau bersifat iritatif. Penderita biasanya merasakan frekuensi buang air kecil yang meningkat, terutama pada malam hari (nocturia), serta muncul dorongan kencing mendadak (urgensi) yang sulit ditahan.
Selanjutnya, gangguan juga dapat muncul saat proses berkemih. Pada kondisi ini, aliran urin menjadi lebih lemah, kencing berlangsung terputus-putus, dan pasien kerap harus mengejan atau menunggu lebih lama sebelum urin keluar.
Adapun pada tahap pasca berkemih, penderita sering kali merasa buang air kecil tidak tuntas. Meski telah selesai, urin masih dapat menetes, menandakan adanya sisa di dalam kandung kemih.
“Masyarakat, khususnya pria di atas 50 tahun, perlu mengenali gejala ini. Jika mulai muncul, sebaiknya segera memeriksakan diri,” ujar dr. Budi, Kamis (16/4/2026).
Tidak Terjadi pada Wanita dan Jarang pada Usia Muda
Ia menegaskan, BPH hanya terjadi pada pria karena berkaitan dengan organ prostat. Gejala serupa pada wanita umumnya disebabkan oleh infeksi saluran kemih atau batu ginjal.
Sementara pada pria usia muda, keluhan yang mirip biasanya berkaitan dengan infeksi atau gangguan saluran kemih lainnya, bukan BPH.
Penanganan Medis dan Pilihan Terapi
RSUD dr Soegiri Lamongan menyediakan penanganan komprehensif untuk BPH, mulai dari diagnosis hingga terapi. Pemeriksaan dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, serta penunjang seperti USG dan laboratorium.
Penanganan yang diberikan meliputi terapi obat (medikamentosa) untuk membantu melancarkan buang air kecil dan mengurangi ukuran prostat. Jika kondisi sudah berat atau menimbulkan komplikasi, tindakan bedah menjadi pilihan.
“BPH tidak bisa hilang sepenuhnya karena faktor usia, tetapi dapat dikontrol sehingga pasien tetap nyaman beraktivitas,” kata dr. Budi.
Pola Hidup untuk Menjaga Kesehatan Prostat
Untuk menjaga kesehatan prostat, masyarakat dianjurkan membatasi konsumsi kafein dan alkohol, tidak menahan buang air kecil, serta rutin berolahraga dan menjaga berat badan ideal. Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting dilakukan, khususnya bagi pria di atas usia 50 tahun.
RSUD dr Soegiri Lamongan terus mendorong edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya deteksi dini penyakit prostat. “Kesehatan prostat merupakan bagian penting dari kualitas hidup pria di usia lanjut,” ujar dr. Budi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

