Aksi Simbolis Santri Matholi’ul Anwar: Protes Banjir Lamongan yang Tak Kunjung Usai
TIMES Lamongan/Peserta aksi di Jalan Raya depan Ponpes Matholi’ul Anwar sambil membentangkan spanduk bertuliskan Mohon Maaf Jalan Sedang Di Kuras dengan membawa Ember dan gayung, Selasa (10/3/2026). (Foto: Moch. Nuril Huda/TIMES Indonesia)

Aksi Simbolis Santri Matholi’ul Anwar: Protes Banjir Lamongan yang Tak Kunjung Usai

Santri PP Matholi’ul Anwar dan kader PMII Lamongan menggelar aksi simbolis menguras banjir di jalan Sukodadi-Paciran sebagai protes atas banjir yang tak kunjung surut selama 4 bulan.

TIMES Lamongan,Selasa 10 Maret 2026, 19:35 WIB
337
M
Moch Nuril Huda

LamonganPuluhan santri dari Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar Simo Sungelebak, Kecamatan Karanggeneng, bersama kader PMII Lamongan dan warga Nahdliyyin menggelar aksi simbolis "menguras banjir" di jalan utama yang berada tepat di depan area pondok, Selasa (10/03/2026).

Aksi ini bukan sekadar gotong royong biasa, melainkan bentuk protes damai sekaligus seruan kepedulian atas persoalan banjir yang telah merendam wilayah tersebut selama kurang lebih empat bulan terakhir tanpa ada solusi permanen dari pihak terkait.

Bentuk Aspirasi Lewat Kerja Bakti

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Matholi'ul Anwar, Syaifulloh Abid, atau yang akrab disapa Gus Abid, menyatakan bahwa genangan air yang menetap berbulan-bulan di depan pesantren sangat mengganggu aktivitas pendidikan dan ekonomi.

"Hari ini kami bersama para santri berniat membantu Pemerintah Kabupaten Lamongan dan Bapak Bupati dengan gerakan kerja bakti menguras banjir. Ini adalah bentuk aspirasi kami karena kondisi ini sudah berlangsung terlalu lama," ujar Gus Abid.

Menurutnya, banjir tidak hanya menghambat mobilitas ribuan santri, tetapi juga melumpuhkan akses utama masyarakat sekitar. Kerja bakti ini diharapkan menjadi pengingat bagi pemangku kebijakan bahwa ada persoalan serius yang membutuhkan penanganan konkret dan cepat.

Dampak Ekonomi dan Kerusakan Jalan

Kondisi ini juga memicu keprihatinan Narto Widodo, tokoh masyarakat Karanggeneng yang menyoroti dampak ekonomi yang kian merosot akibat genangan air di jalur poros Sukodadi-Paciran tersebut.

"Dampaknya sangat signifikan terhadap roda ekonomi masyarakat. Apalagi ini merupakan akses jalan provinsi. Kami berharap ada tindakan tegas, seperti penutupan sementara bagi kendaraan bertonase besar agar tidak melintasi jalur ini selama banjir," tegas Narto.

Ia menambahkan, kendaraan berat yang tetap melintas di tengah genangan air justru mempercepat kerusakan struktur jalan dan membahayakan keselamatan warga yang melintas.

Empat Tuntutan Utama

Dalam aksi tersebut, massa aksi menyatakan sikap dan menuntut empat poin utama kepada pihak berwenang:

1. Tindakan Cepat: Segera mengambil langkah teknis untuk menyelesaikan persoalan banjir di sepanjang jalan Sukodadi-Paciran.

2. Prioritas Pendidikan: Memberikan perhatian khusus pada lembaga pendidikan yang terdampak, seperti PP Matholi’ul Anwar dan lembaga lainnya.

3. Regulasi Kendaraan: Membuat aturan larangan bagi kendaraan bertonase besar melintasi jalur tersebut selama banjir masih berlangsung.

4. Solusi Nyata: Membuat solusi jangka panjang yang berdampak nyata bagi masyarakat terdampak. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Moch Nuril Huda
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Lamongan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.