Quo Vadis IDI Jatim: Menjaga Marwah Profesi di Tengah Arus Transformasi
Masa depan IDI Jawa Timur akan sangat ditentukan oleh keberanian untuk melangkah bersama dalam satu visi yang sama: organisasi profesi yang kuat, bermartabat, dan terus memberi makna bagi pelayanan kesehatan dan kemanusiaan.
Lamongan – Lebih dari 20.000 dokter di Jawa Timur yang terhimpun dalam 34 cabang Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bukan sekadar deretan angka statistik. Mereka adalah wajah pengabdian, denyut nadi pelayanan kesehatan, sekaligus penjaga marwah profesi yang telah teruji oleh waktu.
Dari ruang praktik yang sunyi hingga garis depan saat pandemi dengan balutan alat pelindung diri, rasa kebersamaan sebagai sejawat telah menjadi energi yang menjaga para dokter tetap tegak dalam menjalankan sumpah profesinya.
Namun hari ini, sebuah pertanyaan penting mulai mengemuka: quo vadis IDI Wilayah Jawa Timur? Ke mana arah organisasi profesi ini melangkah di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung?
Hadirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan telah mengubah lanskap sistem kesehatan nasional secara fundamental. Reposisi kewenangan organisasi profesi bukan lagi sekadar urusan administratif, tetapi menyentuh inti identitas profesi dan cara para dokter saling menopang satu sama lain.
Situasi ini menempatkan organisasi profesi pada sebuah persimpangan: membiarkan perubahan berjalan tanpa arah yang jelas, atau justru menjadikannya momentum penting untuk memperkuat peran dan relevansi organisasi di masa depan.
Dalam konteks ini, tantangan yang dihadapi tidaklah sederhana. Sistem kesehatan kini bergerak semakin kompleks. Fragmentasi layanan kesehatan, tekanan efisiensi pembiayaan, serta meningkatnya risiko hukum membuat profesi dokter tidak lagi cukup hanya mengandalkan kompetensi klinis. Para dokter juga dituntut untuk adaptif terhadap dinamika sistem kesehatan yang berubah dengan cepat.
Di tengah kondisi tersebut, ada satu ancaman yang sering kali tidak disadari: memudarnya rasa kebersamaan di antara para sejawat. Tekanan eksternal berpotensi memunculkan kecenderungan individualisme yang perlahan melemahkan kekuatan kolektif profesi.
Sejarah panjang organisasi profesi menunjukkan bahwa kekuatan IDI tidak pernah bertumpu pada individu semata, melainkan pada semangat kesejawatan kemampuan untuk saling menguatkan, saling melindungi, dan tumbuh bersama dalam menghadapi tantangan zaman.
Karena itu, memahami tantangan saja tidaklah cukup. Dalam dunia medis, diagnosis tanpa terapi tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Begitu pula dalam organisasi. IDI Jawa Timur perlu melangkah dari tahap diagnosis menuju terapi organisasi yang konkret dan terarah.
Pertama, penguatan tata kelola organisasi yang berkelanjutan. IDI tidak boleh bergantung pada figuritas kepemimpinan semata. Tata kelola yang sistematis dan konsisten lintas periode kepemimpinan menjadi kunci agar organisasi tetap stabil, adaptif, dan berkelanjutan.
Kedua, perhatian terhadap kesejahteraan anggota sekaligus membuka ruang bagi lahirnya semangat doctorpreneurship. Dokter adalah jantung organisasi. Selain penguatan kompetensi profesional, peluang kemandirian ekonomi bagi para dokter juga perlu dikembangkan secara kreatif dan produktif agar profesi ini tetap memiliki daya tahan dalam menghadapi perubahan sistem.
Ketiga, penguatan fungsi advokasi dan perlindungan profesi. Organisasi profesi harus hadir sebagai perisai nyata bagi para sejawat. Tidak hanya bersifat reaktif ketika ada dokter yang menghadapi persoalan hukum, tetapi juga proaktif melalui sistem advokasi yang terstruktur, edukasi hukum, serta perlindungan yang berkeadilan.
Keempat, percepatan transformasi digital organisasi. Di tengah era disrupsi teknologi, digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Penguatan sistem informasi organisasi, inovasi layanan berbasis teknologi, serta adaptasi terhadap ekosistem kesehatan digital menjadi langkah penting agar profesi dokter tetap memiliki posisi strategis dalam sistem kesehatan modern.
Kelima, penguatan peran sosial organisasi dalam pelayanan masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat tetap menjadi ruh dari profesi kedokteran. Kolaborasi lintas sektor dalam edukasi kesehatan, pencegahan penyakit, serta peningkatan literasi kesehatan publik harus terus diperluas dan diperkuat.
Berbagai agenda strategis tersebut tidak akan memiliki makna jika tidak dibangun di atas fondasi organisasi yang kokoh. Fondasi pertama adalah soliditas antara pengurus wilayah dan cabang sebagai satu kesatuan gerak organisasi. Kedua adalah solidaritas, sehingga tidak ada satu pun sejawat yang merasa berjalan sendirian dalam menghadapi dinamika profesi.
Ketiga adalah integritas sebagai modal utama untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Dan keempat adalah kemandirian finansial organisasi agar tetap mampu menjalankan perannya secara independen.
Dalam konteks itu, IDI Jawa Timur harus mampu mengambil peran sebagai penghubung yang efektif dalam ekosistem kesehatan. Organisasi ini tidak hanya menjadi simpul administratif, tetapi juga jembatan yang menghubungkan dokter, sistem kesehatan, dan masyarakat secara konstruktif.
Cara pandang organisasi juga perlu terus diperbarui dari pendekatan yang reaktif menjadi proaktif, dari kecenderungan eksklusif menuju pola kerja yang lebih kolaboratif.
Di sinilah semangat guyub khas Jawa Timur menemukan relevansinya. Guyub bukan sekadar kebersamaan simbolik, melainkan rasa saling memiliki yang melahirkan tanggung jawab kolektif. Dalam semangat itulah profesi kedokteran dapat terus dijaga martabatnya, sekaligus memberikan kontribusi yang lebih luas bagi kemanusiaan.
Pertanyaan quo vadis IDI Jawa Timur tidak bisa dijawab oleh satu orang atau satu periode kepemimpinan saja. Jawaban atas pertanyaan itu berada pada komitmen bersama seluruh sejawat yang menjadi bagian dari organisasi ini. Dengan jumlah anggota yang besar dan sejarah pengabdian yang panjang, IDI Jawa Timur memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk terus berkembang.
Yang dibutuhkan saat ini adalah kepemimpinan yang ikhlas, visioner, dan mampu merangkul seluruh elemen organisasi. Kepemimpinan yang tidak hanya mengelola organisasi, tetapi juga mampu menyalakan harapan kolektif para sejawat.
***
*) Oleh : dr. Budi Himawan, Sp.U, MM, FICS., Ketua IDI Cabang Lamongan, Ketua LKNU Lamongan, Wakil Direktur Penunjang dan Pelayanan RSUD dr. Soegiri Lamongan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

