Hari Kesehatan Dunia: Menjaga Sains, Menguatkan Sistem Kesehatan
Dengan kebersamaan yang berpijak pada sains, kesehatan benar-benar dapat menjadi hak dan milik semua.
Lamongan – Setiap tanggal 7 April dunia memperingati Hari Kesehatan Dunia atau World Health Day. Peringatan ini bukan sekadar agenda tahunan organisasi kesehatan internasional, tetapi juga momen refleksi global tentang bagaimana manusia menjaga salah satu aspek paling fundamental dalam kehidupan: kesehatan.
Tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema “Together for Health, Stand with Science.” Sebuah pesan sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam bahwa kesehatan hanya dapat dijaga melalui kebersamaan, dan kebersamaan itu harus berpijak pada ilmu pengetahuan.
Tema tersebut terasa semakin relevan jika kita melihat realitas sistem kesehatan hari ini. Tantangan kesehatan modern tidak lagi hanya berkaitan dengan munculnya penyakit baru, tetapi juga dengan bagaimana masyarakat memahami ilmu pengetahuan, mempercayai sistem kesehatan, dan mendukung mereka yang bekerja di garis depan pelayanan medis.
Dalam beberapa waktu terakhir, kita kembali mendengar kabar meningkatnya kasus penyakit yang seharusnya dapat dicegah, seperti campak. Fenomena ini tentu memunculkan pertanyaan penting. Di era ketika vaksin telah tersedia luas dan ilmu pengetahuan berkembang pesat, mengapa penyakit yang dapat dicegah justru kembali muncul?
Jawabannya tidak selalu sederhana. Penyebabnya tidak hanya terletak pada aspek medis, tetapi juga pada persoalan sosial yang lebih kompleks: disinformasi yang menyebar cepat, ketimpangan akses layanan kesehatan, hingga menurunnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap sains. Ketika kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan mulai melemah, maka berbagai upaya kesehatan yang telah dirancang dengan baik pun akan menghadapi hambatan.
Di sisi lain, dunia medis juga dihadapkan pada refleksi yang tidak kalah penting. Kabar duka wafatnya seorang dokter internship beberapa waktu lalu menjadi pengingat bahwa sistem kesehatan tidak hanya berbicara tentang pasien, tetapi juga tentang tenaga medis yang mengabdikan hidupnya untuk merawat orang lain.
Dokter muda yang berada pada fase internship sejatinya berada di persimpangan antara proses pembelajaran dan pengabdian profesi. Mereka belajar sekaligus bekerja dalam lingkungan pelayanan kesehatan yang sering kali penuh tekanan.
Beban kerja yang tinggi, tuntutan profesionalisme, serta keterbatasan sistem dukungan menunjukkan bahwa perlindungan terhadap tenaga medis masih perlu diperkuat. Mereka bukan sekadar tenaga profesional, tetapi juga manusia yang membutuhkan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan manusiawi.
Jika kita melihat dua fenomena tersebut munculnya kembali penyakit yang dapat dicegah dan tantangan yang dihadapi tenaga medis kita akan menemukan satu benang merah yang sama. Keduanya menunjukkan pentingnya penguatan sistem kesehatan secara menyeluruh.
Sistem kesehatan tidak hanya berbicara tentang fasilitas rumah sakit atau teknologi medis yang canggih, tetapi juga tentang kepercayaan masyarakat, kualitas komunikasi kesehatan, serta perlindungan terhadap tenaga medis.
Kembalinya kasus campak, misalnya, bukan semata persoalan klinis. Ia adalah cermin dari bagaimana masyarakat memandang ilmu pengetahuan. Ketika informasi yang tidak akurat lebih mudah dipercaya daripada bukti ilmiah, maka intervensi kesehatan yang seharusnya sederhana dapat berubah menjadi tantangan besar.
Di sinilah peran tenaga medis menjadi sangat penting. Dokter tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi juga sebagai penjaga integritas ilmu pengetahuan. Mereka harus mampu menjembatani sains dengan masyarakat, menjelaskan informasi kesehatan secara jelas, serta membangun kembali kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan.
Peran besar tersebut tidak dapat dijalankan sendirian. Tenaga medis membutuhkan sistem yang mendukung. Lingkungan kerja yang aman, kebijakan yang berpihak pada perlindungan profesi, serta dukungan moral dari masyarakat menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.
Makna “together for health” dalam konteks ini tidak bisa dimaknai secara sempit. Kebersamaan dalam menjaga kesehatan berarti adanya kolaborasi nyata antara berbagai pihak: tenaga medis, organisasi profesi, pemerintah, dan masyarakat. Tidak ada satu pihak pun yang dapat berjalan sendiri. Sistem kesehatan yang kuat selalu dibangun melalui kerja kolektif.
Dalam dunia kedokteran sendiri, nilai kesejawatan menjadi fondasi penting dalam membangun kebersamaan tersebut. Kesejawatan bukan hanya hubungan profesional antar dokter, tetapi juga komitmen moral untuk saling menjaga, saling mendukung, dan saling menguatkan. Nilai ini menjadi semakin penting di tengah tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks.
Organisasi profesi memiliki peran strategis dalam menjaga nilai tersebut tetap hidup. Ia harus hadir sebagai pelindung sekaligus pengayom bagi anggotanya, serta menjadi jembatan antara profesi dan kebijakan publik. Dalam situasi yang terus berubah, organisasi profesi dituntut untuk adaptif, responsif, dan tetap berpijak pada kepentingan anggota serta masyarakat yang dilayani.
Karena itu, Hari Kesehatan Dunia seharusnya tidak berhenti pada peringatan simbolik atau seremoni belaka. Momentum ini perlu dimaknai sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi bersama. Refleksi tentang bagaimana kita menjaga kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan, serta bagaimana kita memastikan bahwa mereka yang berada di garis depan pelayanan kesehatan mendapatkan perlindungan yang layak.
Kesehatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari angka kesembuhan atau statistik penyakit. Ia juga tercermin dari kekuatan sistem yang menopangnya. Sistem kesehatan yang kuat adalah sistem yang mampu melindungi tenaga medisnya, menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sains, dan menghadirkan pelayanan kesehatan yang adil serta dapat diakses oleh semua.
Dengan kebersamaan, sistem tersebut dapat diperkuat. Dengan ilmu pengetahuan, arah dan integritasnya dapat dijaga. Karena hanya dengan kebersamaan yang berpijak pada sains, kesehatan benar-benar dapat menjadi hak dan milik semua.
***
*) Oleh : dr. Budi Himawan, Sp.U, MM, FICS., Ketua IDI Cabang Lamongan, Ketua LKNU Lamongan, Wakil Direktur Penunjang dan Pelayanan RSUD dr. Soegiri Lamongan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

