Paradoks Dokter Internship dalam Sistem Kesehatan Nasional
dr. Budi Himawan, Sp.U, MM, FICS, Ketua IDI Cabang Lamongan, Mantan Presiden BEM FK Unair.

Paradoks Dokter Internship dalam Sistem Kesehatan Nasional

Menjaga dokter muda bukan hanya soal kemanusiaan, melainkan investasi jangka panjang untuk memastikan masa depan kesehatan bangsa tetap tegak berdiri.

TIMES Lamongan,Senin 4 Mei 2026, 19:34 WIB
396
H
Hainor Rahman

LamonganKabar duka kembali menyelimuti dunia kedokteran tanah air. Berpulangnya dr. Myta Aprilia Azmi, seorang dokter muda yang tengah menapaki jalan pengabdian, menambah daftar panjang gugurnya para dokter internship. 

Data Kementerian Kesehatan mencatat pada Maret 2026 saja, tiga dokter muda meninggal dunia dalam waktu berdekatan dengan diagnosis medis yang beragam, mulai dari komplikasi penyakit menular hingga penurunan daya tahan tubuh yang ekstrem.

Rentetan peristiwa tragis ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah pola yang menunjuk pada satu pertanyaan besar: Apakah ada yang salah dengan desain Sistem Kesehatan Nasional kita?

Program internship dokter di Indonesia saat ini berada dalam posisi yang ambigu. Secara formal, ia disebut fase pemahiran dan pembelajaran. Namun di lapangan, praktiknya sering kali menyerupai tenaga kerja layanan garda terdepan. Ada ketimpangan tajam antara tanggung jawab klinis yang besar dengan sistem perlindungan yang belum sepadan.

Kemenkes memang menyatakan bahwa jam kerja dokter internship rata-rata di bawah 48 jam per minggu dan tidak terkait beban kerja berlebih. Namun, kita perlu memahami bahwa beban kerja tenaga medis bersifat multidimensional. Ia tidak bisa hanya diukur dengan durasi waktu administratif.

Beban kerja yang sesungguhnya mencakup intensitas kasus, kompleksitas klinis, tekanan pengambilan keputusan, hingga keterbatasan fasilitas di daerah. Seorang dokter muda yang bekerja 40 jam di sistem yang rapuh dan minim supervisi, jauh lebih berisiko mengalami burnout dan penurunan imunitas dibandingkan mereka yang bekerja lebih lama namun dalam sistem yang suportif.

Di banyak wilayah, dokter internship justru menjadi tulang punggung layanan dasar. Mereka ditempatkan di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas, bahkan sering menjadi satu-satunya dokter yang aktif. Dalam kondisi ini, konsep "belajar" menjadi kabur; yang terjadi adalah praktik layanan penuh risiko tanpa bimbingan yang memadai.

Hal yang paling sensitif tentu saja terkait kompensasi. Jika dibandingkan dengan risiko paparan penyakit dan tanggung jawab nyawa pasien, imbalan yang diterima jauh dari kata layak. Muncul pertanyaan reflektif: Apakah ini benar-benar sistem pendidikan, atau pemanfaatan tenaga terdidik dengan biaya murah di balik narasi luhur pengabdian?

Pengabdian adalah nilai mulia dalam profesi dokter. Namun, pengabdian tidak boleh dijadikan tameng untuk menormalisasi ketidakadilan sistemik. Menjadikan internship sebagai jalan pintas untuk menutup kekurangan tenaga kesehatan di daerah yang belum siap secara infrastruktur adalah sebuah kesalahan desain kebijakan.

Mengakhiri Paradoks, Menjaga Masa Depan

Gugurnya dokter muda adalah hilangnya aset masa depan bangsa. Paradoks ini harus segera diakhiri dengan langkah-langkah konkret dan membangun:

Pertama, evaluasi status profesional. Jika pendidikan kedokteran sudah komprehensif dan lulus uji kompetensi nasional, mereka seharusnya diakui sebagai profesional penuh dengan hak perlindungan dan kesejahteraan yang setara, bukan lagi dianggap tenaga "setengah belajar".

Kedua, redesain program internship. Jika tetap dipertahankan, internship harus dikembalikan ke khitahnya sebagai fase pendidikan di rumah sakit yang mapan dengan supervisor aktif, bukan sebagai substitusi kekurangan tenaga di daerah terpencil yang minim pengawasan.

Ketiga, pemisahan kebijakan distribusi. Pemerataan dokter ke daerah harus berdiri sebagai kebijakan mandiri dengan insentif tinggi dan jaminan keamanan yang matang, bukan dibebankan pada pundak dokter muda melalui jalur internship.

Sebuah sistem kesehatan yang kuat tidak hanya diukur dari seberapa banyak pasien yang terlayani, tetapi dari seberapa baik ia melindungi para pejuangnya. 

Menjaga dokter muda bukan hanya soal kemanusiaan, melainkan investasi jangka panjang untuk memastikan masa depan kesehatan bangsa tetap tegak berdiri. Jangan biarkan pengabdian mereka dibayar dengan harga yang terlalu mahal. (*)

***

*) Oleh : dr. Budi Himawan, Sp.U, MM, FICS, Ketua IDI Cabang Lamongan, Mantan Presiden BEM FK Unair.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Hainorrahman

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Lamongan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.