Dinamika Sunni dan Syiah dalam Sejarah Peradaban Islam
Persatuan adalah satu-satunya jalan agar peradaban Islam tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi tetap menjadi kekuatan moral bagi kemanusiaan.
Lamongan – Belakangan ini, ruang publik kita kembali bising dengan diskursus lama yang mendadak segar: sentimen Sunni dan Syiah. Pemicunya tak lain adalah memanasnya konfrontasi militer antara Iran dan Israel. Sayangnya, ketegangan politik di Timur Tengah ini sering kali ditarik paksa ke ranah sektarian yang sempit.
Muncul fenomena memprihatinkan di media sosial, di mana sebagian kelompok justru tampak "alergi" membela pihak yang diserang hanya karena perbedaan mazhab.
Jika kita menilik lebih dalam, Sunni dan Syiah bukan sekadar dua kutub yang bertikai, melainkan dua pilar intelektual yang telah membentuk wajah peradaban Islam selama lebih dari 14 abad.
Penting untuk ditegaskan bahwa keretakan awal antara Sunni dan Syiah pada tahun 632 M bukanlah karena perbedaan pokok ketuhanan (akidah), melainkan urusan politik praktis: siapa yang paling berhak memimpin umat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Kelompok yang kelak menjadi Sunni meyakini pemimpin atau Khalifah harus dipilih melalui konsensus (syura). Maka muncullah kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman, hingga Ali bin Abi Thalib.
Sementara kelompok Syiah meyakini bahwa Nabi telah mengisyaratkan Ali bin Abi Thalib sebagai penerus sah melalui otoritas ilahi yang disebut Imamah, yang harus terjaga dalam garis keturunan suci Ahlul Bait.
Seiring waktu, perbedaan orientasi kepemimpinan ini mengkristal menjadi perbedaan metodologi hukum. Sunni lebih desentralistik dengan ijtihad kolektif para ulama, sementara Syiah memberikan kedudukan spiritual yang luar biasa kepada Imam yang dianggap maksum (terjaga dari dosa).
Paradoks Geopolitik dan Kemanusiaan
Di era modern, dinamika ini bergeser ke medan tempur geopolitik. Ketakutan akan pengaruh "Bulan Sabit Syiah" yang dipelopori Iran sering kali membuat sebagian kelompok Sunni kehilangan kompas solidaritas.
Ada anomali yang ironis: kebencian terhadap Syiah terkadang membuat orang bersikap apatis atau bahkan seolah mendukung Israel. Narasi bahwa konflik Iran-Israel hanyalah "sandiwara" mencuat sebagai bentuk pelarian dari fakta bahwa persatuan umat sedang diuji oleh isu kemanusiaan yang lebih besar, yakni Palestina. Ini adalah bukti nyata bagaimana politik identitas mazhab bisa merusak akal sehat dan empati kemanusiaan.
Menariknya, Indonesia memberikan teladan unik. Meski mayoritas penduduknya adalah Sunni bermazhab Syafi’i, jejak budaya Syiah justru hidup berdampingan dengan damai dalam tradisi kita.
Lihatlah perayaan Tabot di Bengkulu atau Tabuik di Pariaman yang memperingati tragedi Karbala. Bahkan istilah "Bulan Suro" dalam tradisi Jawa berakar dari peringatan Asyura (10 Muharram). Hal ini membuktikan bahwa di level akar rumput, Sunni dan Syiah bisa bertemu dalam ruang budaya tanpa harus berujung pada gesekan teologis yang tajam.
Upaya menjembatani perbedaan ini sebenarnya sudah mencapai puncaknya melalui Risalah Amman (2004). Deklarasi yang ditandatangani lebih dari 500 ulama dunia ini menegaskan bahwa siapa pun yang mengikuti mazhab Islam yang diakui adalah Muslim dan dilarang untuk dikafirkan (takfir).
Kita harus sadar bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah berada pada level cabang (furu’iyyah), bukan pada pokok (ushul). Kita bersaksi pada Tuhan yang sama, menghadap Kiblat yang sama, dan membaca Kitab Suci yang sama.
Di tengah krisis global dan ancaman terhadap kedaulatan negara-negara Muslim, sudah saatnya kita berhenti melihat dunia melalui kacamata kuda sektarian. Persatuan adalah satu-satunya jalan agar peradaban Islam tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi tetap menjadi kekuatan moral bagi kemanusiaan.
Baca juga
***
*) Oleh : dr. Budi Himawan, Sp.U, Ketua LKNU dan Ketua IDI Cabang Lamongan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



